Archive for the ‘ KEHIDUPAN ’ Category

Jika kena tilang, maka harus?

Tgl 18 Oktober dipagi hari ane kena tilang, kebetulan ane lupa menyalakan lampu, pas liat dari kejauhan ada polisi langsung ingat dan nyalain lampu. Tapi memang hebat mata polisi, dia bisa lihat walau dari jauh. Langsung ane distop dan basa-basi awal seperti biasa dan intinya ane kena tilang.

Pas didalam pos polisi ane minta untuk bayar langsung ke Bank atau dalam kata lain, ane minta yang slip biru. Tapi anehnya polisi malah mengarahkan saya untuk slip merah, dengan menakut-nakuti biayanya bisa lebih mahal dan segala macam. PadahalĀ  Polisi harusnya memberikan slip biru bila si pelanggar mengakui kesalahannya tanpa harus adu urat leher. Sedikit mengutip dari web lain untuk mengetahui bedanya slip merah dan slip biru.

SLIP MERAH : surat tilang ini diberikan apabila terjadi kesalahan di jalan raya dan pengendara tersebut tidak mengakui kesalahannya (mangkir) yang disebutkan oleh petugas jalan raya (POLANTAS) dan akan dikenakan denda sesuai dengan beratnya kesalahan yang telah dilakukan melalui proses pengadilan.

SLIP BIRU : surat tilang ini diberikan apabila terjadi kesalah di jalan raya dan pengendara mengakui kesalahannya (tidak mangkir) yang disebutkan oleh petugas jalan raya (POLANTAS) dan akan dikenakan denda maksimal Rp 50.600,- (Lima puluh ribu enam ratus rupiah) serta dapat dibayarkan melalui Bank yang ditunjuk tanpa harus melalui proses pengadilan. Yang artinya Rp 50.000,- masuk ke kas negara dan Rp 600,- untuk petugas yang menanganinya dan itupun baru bisa diambil pada bulan berikutnya. Baca lebih lanjut

IJAZAH pesanan orangtua

“Nak sekolah yang tinggi, biar gampang cari kerja” itulah pesan sebagian besar orangtua kepada anaknya yang menyebabkan terbentuknya paradigma di masyarakat kalau mau hidup senang harus punya IJAZAH, apalagi kalau dapat dari Universitas Negeri yang punya nama terkenal.

Apakah dilarang kalau punya pikiran demikian? tentu tidak. Apalagi ada yang berpendapat meraih IJAZAH Perguruan Tinggi adalah amanah orang tua. Tapi apakah tidak menjadi beban dan bahkan sia-sia ketika mendapatkan IJAZAH ternyata tidak menjamin dapat pekerjaan yang layak. “Ente udah disekolahin tinggi-tinggi masih aja nganggur, sono keluar gih cari kerja daripada diem aje dirumah”. Ini sepenggalan komentar yang ane ambil dari sebuah sinetron komedi di televisi yang menjadi potret masyarakat kebanyakan.

Istilah “Tuntutlah ilmu hingga ke negeri Cina” sudah berubah menjadi “Tuntutlah IJAZAH biar cepat dapet kerja”. Karena apa? yah karena pesan orang tua tersebut yang telah mengontrol pola pikir kita, sehingga merubah fokus kita yang seharusnya mencari Ilmu menjadi mencari Ijazah agar mudah dapat kerja. Bukannya ngajarin ngelawan orangtua, tapi kita harus bisa kasih pengertian ke orangtua.

Pada intinya orangtua hanya ingin kita tidak hidup susah dikemudian hari. Masalah IJAZAH itu nomor ke sekian, kalau mau kuliah fokuslah pada keahlian atau ilmu yang kita inginkan masalah pekerjaan bisa kok tanpa IJAZAH (kapan-kapan ane bagi tipsnya Kerja di Perusahaan tanpa IJAZAH). Apalagi sekarang biaya kuliah mahalnya ampun-ampun deh, sayang kalau cuma dapat IJAZAH doang, mendingan diputerin buat modal usaha hehehe.

Persetan dengan IJAZAH

“PERSETAN DENGAN IJAZAH”, ya itu yang pernah ane tulis di milist TDA Bekasi. Bukannya benci sama pendidikan, tapi benci sama mahalnya pendidikan dan sistem IJAZAH sebagai parameter untuk berbagai hal, seperti melamar kerja pegawai negeri atau swasta, untuk meneruskan jenjang sekolah, berbagai lomba keilmuan dan masih banyak hal.

Banyak teman ane yang putus sekolah atau tidak bisa meneruskan ke jenjang perguruan tinggi yang sulit bekerja. Padahal kalau mau di adu sama yang dilehernya ada gelar sarjana, ane yakin, temen ane gak kalah bahkan bisa ngalahin barangkali. Baca lebih lanjut